google.com, pub-3988382010432274, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Selama Rakyat Masih Terjajah, Tidak Mungkin Mereka Memiliki Kebebasan Sejati

Redaksi

Juli 12, 2025

“Selama Rakyat Masih Terjajah, Tidak Mungkin Mereka Memiliki Kebebasan Sejati.” Mengulas Buku “Dari Penjara Ke Penjara” Tan Malaka Hak Manusia Dan Hak Perlindungan Diri


Oleh, Afinas Qadafi,CPM Mahasiswa Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah IAIN Langsa, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiwa Fakultas Syari’ah IAIN Langsa 2024, dan Kader Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Cabang Langsa.

Buku Dari Penjara Ke Penjara adalah buku yang membahas biografi dan perjuangan Tan Malaka agar pengalaman yang di dapatkan dijadikan pelajaran bagi para pahlawan kemerdekaan sekarang dan hari depan.
Dalam buku “Dari Penjara ke Penjara” karya Tan Malaka, pembahasan tentang hak asasi manusia tidak disampaikan secara sistematis seperti dalam dokumen modern seperti Universal Declaration of Human Rights (UDHR).


Untuk menyadaran tempat hak perlindungan diri dalam hukum,baik kalau ditinjau sekilas hukum mengenai hak manusia itu. Tinjauan tidak susah dilakukan kalau kita memandang dengan meninjau alam raya, seperti memisahkan yang positif dan negatif serta menarik yang menolak. Pada dasarnya ada dua kodrat terbesar yang menggerakkan jiwa semua yang hidup , termasuk jiwa manusia, yaitu kehendak mau hidup dan kehendak jangan mati. Kalau kehendak pertama kita sebut positif, maka yang kedua adalah negatif. Kalau umumnya kemauan manusia mendekap-menarik yang pertama, maka ia bearti pula berhasrat menolak yang kedua.
Dalam arti yang konkret, yang pertama itu merupakan mencari alat hidup seperti makanan, minuman,pakaian,perumahan,dan lain-lain, sedangkan yang kedua merupakan menolak bahaya dari penyakit dan kelaparan.
Perjuangan hak artinya perjuangan merebut hak yang positif dari yang negatif yaitu sebagai yang telah berhasil berupa Magna Charia dan The Rights Of Man (Deklarasi hak-hak Manusia), seperti tercantum dalam hukum Inggris dan Amerika, atau Lets Droits Des Hommes (Undang-Undang Prancis) dan akhirnya berupa hak bekerja di Soviet Rusia.
Pada dasarnya makna positif dari semboyan kemerdekaan itu ialah mencari nakah seperti bertani,berdagang, dan membangun perusahaan serta merdeka untuk menjalankan pekerjaan serta merdeka memiliki, menjual atau nafkah dan akhirnya memilih wakil unntuk lembaga politik, daerah atau pusat, merdeka pula mengikuti paham atau membelanya dengan lisan maupun ke lisan. Sebaliknya negatif,ialah bebas dari ikatan feodalisme yang berhubungan dengan pencarian hidup itu dan bebas pula sewenang-wenang polisi atau mahkamahnya raja bersama bangsawannya.


Persamaan ialah derajat dituntut oleh kaum borjuis Prancis, supaya hak itu bai positif atau negatif sama rataoleh dimiliki oleh seluruh rakyat, mulai dari ningrat, pendeta, kaum borjuis ataupun kaum proletar dan pertanian.
Barangkali karena sangat dipengaruhi oleh momok fasisme dan Nazisme, atau karena juga negatifnya kapitalisme terhadap kaum proletar maka presiden Rooselvelt mengajukan dua syarat diantara empat tuntutan kemerdekaan
Bebas dari ketakutan
Bebas dari kelaparan
Bebas dari penangkapan
Berhak diberi pekerjaan oleh negara
Tetapi kaum kapitalis memang tak mau menjalankan kontrak positif dalam menjamin keberlangsungan hidup setiap warga negaranya.


Semboyan partai bolsjewik dalam revolusi 1917, yaitu tuntutan roti, uang, dan tanah (positif) dan tuntutan perdamaian bebas dari serangan dan bahaya (negatif).
Hak negatif berupa perlindungan diri sedangkan hak positif adalah hak untuk mendapatkan mata pencaharian, keduanya atas jaminan negara.


Di zaman feodal budak tidak boleh diperjualbelikan karena dia terikat dengan tuan tanahnya, sedangkan budak feodal di Prancis harus menanggung beban pajak yang berat. Dan hasil yang mereka peroleh 14% harus di bayar ke kaum ningrat, 14% untuk pendeta, 53% diberikan ke raja. Mereka hanya mendapat sisanya untuk keperluan bersama keluarga.


Masyarakat feodal di Prancis memang bobrok, tak sanggup lagi meneruskan kehidupan masyarakat, cara menghasilkan diatas tanah dan perusahaan sangat mengungkung golongan baru kuat dalam masyarakat, ialah kaum borjuis dengan bantuan kaum proletar.
Dengan lettre de cachet tidak ada tuduhan pelanggaran undang-undang yang pasti dan ditetapkan lebih dahulu. Orang yang tidak disukai sewaktu-waktu boleh ditangkap dan ditahan dipenjara, selama mau sang penguasa.
Dalam pemeriksaan untuk mendapatkan bukti pelanggaran yang dituduh dan ditahan boleh disiksa, di pukul, di sepit badannya dengan besi, ditusuk jarinya atau di bakar mulutnya sampai terpaksa mengaku. Kerap sekali yang tertuduh mengakui tuduhan bukan karena ia melakukan melainkan tidak tahan siksaan. Hukuman dijatuhkan semaunya hakim saja, tidak sedikitpun dijatuhkan pada orang yang sebenarnya tidak bersalah.


Sebelum revolusi Prancis orang boleh dianiaya, di koyak menjadi empat dan ditarik dengan kuda, direndam sampai mati atau di bakar hidup- hidup. Dengan runtuhnya Bastille maka berakhirlah semua penangkapan, pemeriksaan, dan hukuman sewenang- wenang. Bastille adalah penjara dikota Paris. Lambang kesewenang-wenangan feodalisme yang diratakan dengan tanah oleh rakyat revolusioner dengan hancurnya masyarakat feodalisme sampai ke akar-akarnya, maka lenyaplah bahaya yang sewaktu-waktu bisa menimpa seorang warga negara.

error: Konten dilindungi!!