Beranda kota langsa Pernyataan Pejabat Disorot, Afinas Qadafi Tegas: Guru Adalah Ruh Peradaban!

Pernyataan Pejabat Disorot, Afinas Qadafi Tegas: Guru Adalah Ruh Peradaban!

227
0

Langsa, 19 Agustus 2025 —

Pernyataan seorang pejabat yang menyebut guru sebagai “beban negara” menuai gelombang kritik. Bagi Afinas Qadafi, S.H., CPM, Kader Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Langsa, ucapan tersebut bukan hanya melukai hati para guru, tetapi juga menyinggung nurani bangsa.

> “Guru bukan beban. Guru adalah ruh peradaban dan penopang lahirnya manusia-manusia Indonesia yang cerdas serta bermartabat,” tegas Afinas.

Guru: Pilar, Bukan Beban

Menurutnya, tidak pantas mereka yang mengabdikan diri di pelosok negeri, mengajar dengan gaji minim, dan berkorban demi mencerdaskan bangsa justru dipandang sebagai beban.

“Jika guru dianggap beban, sesungguhnya bangsa ini sedang salah menghitung makna pembangunan,” tambahnya.

Sejak Ki Hajar Dewantara menegaskan semboyan legendaris *Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani*, jelas bahwa guru adalah tiang peradaban. Mengabaikan guru sama halnya dengan merobohkan fondasi bangsa.

Landasan Hukum: Guru adalah Mandat Konstitusi

Tidak hanya secara filosofis, posisi guru juga diatur kuat dalam hukum:

1. UUD 1945 Pasal 31 ayat (3): Pemerintah wajib menyelenggarakan sistem pendidikan nasional.
2. UUD 1945 Pasal 31 ayat (4): Negara harus mengalokasikan minimal 20% APBN untuk pendidikan.
3. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: Pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen:** Guru adalah tenaga profesional dengan tugas mulia meningkatkan martabat manusia Indonesia.

Dengan dasar tersebut, guru jelas bukan beban, melainkan mandat konstitusional yang harus dihormati dan disejahterakan.

Kritik terhadap Prioritas Negara

Ironisnya, kata Afinas, negara kerap jor-joran menggelontorkan dana untuk proyek mercusuar dan penyelamatan korporasi, sementara gaji guru masih sering dipandang sebagai pengeluaran yang memberatkan.

“Padahal, apa arti infrastruktur megah bila generasi yang mengelolanya tidak dibentuk melalui pendidikan yang berkualitas?” ungkapnya.

Pesan untuk Pemerintah

Afinas menegaskan kritik ini bukan sekadar pembelaan terhadap guru, tetapi peringatan keras bagi pemerintah agar tidak salah arah.

“Pendidikan adalah urat nadi bangsa. Jangan pernah menempatkan guru sebagai beban, sebab di tangan merekalah masa depan negeri dititipkan,” ujarnya.

Mengutip kembali Ki Hajar Dewantara, ia menutup pernyataannya:

> “Guru adalah pejuang yang ikhlas, bukan buruh yang sekadar mencari upah. Sudah seharusnya negara menghormati, bukan merendahkan.”