Beranda Daerah Takdir Telah Merengut Ayah nya ,Menghakimi Atas Sesama Menjadi Luka Yang Tak...

Takdir Telah Merengut Ayah nya ,Menghakimi Atas Sesama Menjadi Luka Yang Tak Terbalas.

39
0

“Surat Terakhir Untuk Ayah”

Bali, 2026.

Sebut saja Pak Wayan. Usia 37 tahun. Seorang ayah.
Di rumah kontrakannya ada 2 piring kosong dan satu anak perempuan usia 8 tahun sebut saja malaikat kecil . Sudah 3 hari mereka hanya minum air putih.Malam itu putri mungil itu demam. Ibu nya sudah lama pergi. Tetangga sudah tidak mau meminjamkan beras lagi. Di dapur cuma ada garam.(Senin/27/26)

Pak Wayan jalan keluar dengan kepala tertunduk. Bukan karena dia pencuri. Tapi karena dia kehabisan cara jadi ayah.

“Tunggu di rumah ya Nak. Ayah cari makan,” katanya sambil mengusap kepala peri mungil Itu kalimat terakhir yang ia ucapkan untuk gadis kecil yang belum mampu memeluk lukanya sendiri

Keesokan paginya, video itu viral.
“KETAHUAN MENCURI AYAM!”
Komentar di bawahnya: hujatan, tawa, meme.
Tapi tidak ada yang bertanya: “3 hari terakhir dia makan apa?”

Peri kecil itu tidak sekolah seminggu. Dia duduk di pojok, memeluk baju ayahnya. Di saku baju itu ada sobekan kertas. Tulisan tangan ayahnya, belepotan:

_”Nak, maafkan Ayah ya. Ayah gagal. Ayah malu. Tapi Ayah sayang kamu lebih dari apapun. Kalau Ayah nggak balik, ayah jaga Ibu di surga ya…”_

Surat itu tidak pernah selesai.

Hari-hari setelahnya berat. Peri kecil itu diejek di sekolah. “Anaknya pencuri”. Guru-gurunya kasihan tapi bingung harus berbuat apa.

Sampai di hari ke-7, Bu Kadek dari PKK datang. Dia tidak membawa ceramah. Dia bawa beras, susu, dan 5 ekor ayam.

Seisi lapangan diam. Beberapa ibu-ibu menangis.

Di langit, tidak ada yang tahu Pak Wayan dengar atau tidak.
Tapi di tanah, satu anak akhirnya bisa bilang: “Aku bangga jadi anak Ayah.”

*Pesan cerita ini:*
Kemiskinan bisa membuat orang berbuat salah.
Tapi menghakimi tidak akan mengenyangkan siapapun.
Yang bisa adalah tangan yang terulur, sebelum terlambat.

Di saat lapar dan putus asa, dia khilaf.
Di saat tak ada yang menolong, dia menyerah.
Hari ini dia sudah di hadapan-Mu.
Kami titipkan dia. Ampuni dosanya, lapangkan kuburnya.
Dan untuk anak yang ditinggalkan…
Kuatkan hatinya, cukupkan rezekinya, dan jaga masa depannya.
Semoga ini jadi pengingat bagi kami yang masih hidup
Jangan sampai ada lagi tetangga yang kelaparan di samping kita.”

“Viralnya sebuah tragedi di Bali membuka mata kita.
Di balik berita, ada seorang anak yang kehilangan ayah.
Ada keluarga yang berjuang melawan kemiskinan.
Kejadian ini bukan untuk dihakimi, tapi untuk direnungkan.

“Dia bukan pahlawan.
Dia juga bukan penjahat.
Dia hanya seorang ayah…
yang kalah melawan lapar,
dan menang dalam hal mencintai anaknya.
Kini namanya tinggal jadi berita.
Tapi cintanya, masih hidup di mata anaknya.
Untuk Ayah.
Maaf dunia belum cukup baik untukmu.
Dan untuk kami…
belajarlah jadi manusia sebelum menghakimi manusia.”

Penulis:Rama Gunawan