Aceh Tamiang , KABARTUJUH – Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang kembali memperingati Hari Jadi ke-23 dengan menggelar Rapat Paripurna Istimewa di Ruang Sidang Utama DPRK Aceh Tamiang, pada Rabu malam, 9 April 2025, pukul 20.30 WIB.
Rapat ini menjadi bagian pembuka dari perayaan tahunan yang jatuh setiap tanggal 10 April, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah terbentuknya Kabupaten Aceh Tamiang.
Sambutan Reflektif Ketua DPRK: Waktu untuk Mengenang dan Merancang Masa Depan
Dalam sambutannya, Ketua DPRK Aceh Tamiang, Fadlon, S.H., menyampaikan bahwa peringatan hari jadi tidak hanya dimaknai sebagai seremoni, melainkan juga sebagai momentum evaluasi dan refleksi atas perjalanan pembangunan daerah.
“Sebagaimana petuah para leluhur, jika hendak mencapai tujuan, bekerjalah sepadu setujuan. Jika hendak meraih kejayaan, bersatu padu memikul beban,” ujar Fadlon dengan penuh makna.
Ia mengajak seluruh pihak untuk terus bergandengan tangan membangun Bumi Mude Sedie dengan semangat persatuan dan visi bersama menuju masa depan yang lebih baik.
Hadirnya Pimpinan Daerah dan Tamu Kehormatan
Rapat paripurna ini turut dihadiri oleh berbagai unsur penting, antara lain:
- Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tamiang beserta istri
- Pimpinan dan 29 Anggota DPRK Aceh Tamiang
- Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)
- Perwakilan Bupati Langkat dan Sekretaris DPRD Kabupaten Langkat
- Tokoh masyarakat, tokoh adat, pejabat struktural, dan tamu undangan lainnya
Hadirnya berbagai elemen ini memperlihatkan sinergi dan komitmen bersama dalam menjaga serta memperkuat pembangunan daerah.
Mengenal Sejarah Hari Jadi Kabupaten Aceh Tamiang
Kabupaten Aceh Tamiang resmi berdiri berdasarkan payung hukum administratif dan telah berkembang menjadi wilayah strategis di kawasan timur Aceh. Setiap tanggal 10 April diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten, menjadi simbol kebanggaan dan kebersamaan masyarakat Aceh Tamiang.
Perjalanan selama lebih dari dua dekade telah menunjukkan kemajuan signifikan di berbagai sektor. Momentum peringatan ini diharapkan dapat menjadi titik tolak baru untuk mendorong pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.







