Mediaindonesia24.com,Lhokseumawe,Aceh-Pasien Tn S, asal Dewantara kita terima sore di IGD untuk selanjutnya dari keluarga meminta dirujuk ke RSUZA untuk pengobatan penyakitnya yang 3 tahun yg lalu sudah pernah dilakukan tindakan dan hanya satu kali kontrol ulang setalah tindakan operasi dilakukan.
Maksud dilakukan rujukan bahwa menurut keluarga pasien nantinya di banda Aceh akan ada petugas dari Kemensos yang akan menanggung semua proses rujukan untuk penanganan pasien di RSUZA.
Tindakan pertama yg dilakukan oleh petugas IGD adalah mengkonsultasikan ke RSUZA tentang proses sebelum dirujuk, setelah beberapa kali mencoba baru mendapatkan respon dari ZA sambil menanyakan gimana keadaan pasien, setelah mendapat penjelasan dari petugas IGD RSU Cut Meutia.
ZA mengkonfirmasi bahwa kasus ini bukan emergency dan menyarankan masuk dari poliklinik (melalui proses rujukan poliklinik) .
Karena rujukan ke poli tidak ditanggung BPJS maka keluarga menanyakan berapa biaya ambulan jika pasien berangkat secara umum. Petugas yang telah mendapat keterangan menjelaskan untuk dirujuk secara umum ke RSU za biayanya 2,1 juta dengan perawat pendamping dan 1,6 juta tanpa perawat pendamping.
sementara dari keterangan keluarga petugas Kemensos hanya menanggung biaya pergantian rujukan sebesar 500rb rupiah.
Oleh karena hujan proses persiapan hasil ronsen dan konsultasi dokter ahli orthopedi selesai di jam 9 dan dari hasil pemeriksaan LAB dan ronsen dokter menyarankan pasien utk tetap dirujuk ke Banda melalu rujukan poliklinik. ( tanpa indikasi rawat) oleh karena sudah malam dokter menyarankan utk menginap 1 mlm di IGD / ruang observasi ( oleh karena ruangan yang penuh) disini pasien dan keluarga mulai marah dan meminta untuk melepas infus dan minta diantar pulang kerumah.
Kembali petugas menjelaskan bahwa pulang atas permintaan sendiri tidaj ditanggung biaya ambulan kecuali biaya rujukan dan pemulangan jenazah.
Akhirnya pasien dan keluarga memilih utk pulang.
Jadi tidaj benar dikabarkan pasien diusir seperti yang viral di medsos.(M,Indra Dermawan)
keterangan Foto :Dr Harry Laksamana, Humas RSU Cut Meutia







