Beranda Aceh tamiang “Ketika Gelap Bertemu Cahaya ,Hati Yang Turun Ke Lapangan”.

“Ketika Gelap Bertemu Cahaya ,Hati Yang Turun Ke Lapangan”.

14
0

Aceh Tamiang – terasjurnalis.net

Sebuah senter kecil di rumah tua. Sebuah laporan di media. Sebuah hati yang tidak bisa diam. Dan seorang pemimpin yang langsung bergerak. Ini kisah bagaimana kepedulian bisa memutus rantai gelap.

Di tengah kursi dan rapat, ada seorang perempuan yang memilih turun ke tanah. Karena bagi dia, politik bukan soal pidato. Politik adalah soal manusia.Saat mendengar kabar Nek Kirah, 70 tahun, hidup sebatang kara tanpa listrik dan air bersih. Hatinya tidak bisa diam di balik meja.

Jumat, 31 Juli.
Ibu Lena tidak mengirim staf. Tidak mengirim surat.
Beliau datang sendiri.Dengan langkah sederhana, beliau masuk ke rumah tua nan usam.
Membawa bukan hanya jabatan, tapi membawa kemanusiaan.

Beliau gandeng dr. Tofik Haranas Lubis dari Puskesmas Tamiang Hulu.
Beliau ajak Datok Jumani
Beliau rangkul ibu-ibu senam “Macan”.
Bukan untuk seremonial. Tapi untuk memastikan: “Nek, kamu tidak sendiri.”

Di lantai rumah Nek Kirah, beliau duduk.
Memegang tangan keriput Nek Kirah.
Mendengarkan. Menatap. Merasakan.

Itulah politik yang sesungguhnya
Bukan pencitraan.
Tapi hadir saat rakyat paling butuh.
Bukan menunggu laporan.
Tapi menjemput masalah sampai ke blok 40.

Karena Ibu Lena percaya
Jabatan adalah amanah untuk melayani. Bukan untuk dilayani

Berkat kepedulian dan keberanian Ibu Lena bersuara,
kabarpun sampai ke Bupati.
Dan hari itu juga, gerak cepat dilakukan.

Berita ini sampai ke meja Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H.
Tidak ada kata “nanti”. Tidak ada kata “besok”.
Hari itu juga beliau tegas:

“Sudah saya perintahkan Kadis Sosial dan Baitul Mal untuk segera menindaklanjuti dan membantu permasalahan Nenek Kirah.”

Gerak cepat. Tanpa birokrasi bertele-tele.
Karena bagi beliau, kemanusiaan tidak bisa ditunda.Kini, senter Nek Kirah tidak akan jadi satu-satunya cahaya lagi.
Ada cahaya dari kebijakan Pak Bupati.
Ada cahaya dari kepedulian Ibu Lena.
Ada cahaya dari kita semua yang mau bersuara.

Pemimpin hebat bukan yang berjanji paling banyak.
Tapi yang paling cepat bertindak saat rakyatnya butuh.

Itulah pemimpin.Yang mendengar jeritan rakyatnya bukan sebagai angka, tapi sebagai keluarga.
Yang menjadikan kursi jabatan sebagai amanah, bukan tahta.
Yang membuktikan bahwa negara hadir bukan di atas kertas, tapi di depan pintu rumah warganya yang paling lemah.

Gerak cepat Bapak Bupati Armia Pahmi adalah bukti nyata
Bahwa di Aceh Tamiang, tidak ada warga yang akan dibiarkan berjuang sendirian dalam gelap

“Pemimpin bukan yang paling tinggi kursinya. Tapi yang paling rendah mau membungkuk untuk sesamanya.”

Terima Kasih Pak Bupati.Atas nama seluruh masyarakat Aceh Tamiang, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Bapak Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H. Bupati Aceh Tamiang

Atas gerak cepat dan kepedulian Bapak dalam menindaklanjuti permasalahan Nenek Kirah.
Keputusan Bapak memerintahkan Kadis Sosial dan Baitul Mal adalah bukti nyata bahwa di Aceh Tamiang, tidak ada warga yang dibiarkan sendiri.
Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan Bapak dengan kesehatan, keberkahan, dan kemudahan.

Terima kasih karena Bapak mendengar.
Terima kasih karena Bapak bergerak cepat.
Terima kasih karena Bapak membuktikan bahwa pemimpin itu hadir untuk rakyatnya, bukan sebaliknya.

Nek Kirah hari ini tidak menangis sendiri lagi.
Karena ada Bapak di sana.
Sehat selalu Pak Bupati. Kami doakan dari jauh

Bupati Aceh Tamiang Bapak Armia Pahmi
Atas respons cepat dan hati yang peduli kepada Nenek Kirah.
Langkah Bapak adalah harapan bagi kami semua.

Penulis :Rama.G