Aceh Tamiang, Juni 2025 — Setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah pertama yang berani. Dan Aceh Tamiang telah mengambil langkah itu.
Selama bertahun-tahun, potensi pariwisata Aceh Tamiang seperti permata yang belum diasah. Pada tahun 2023, retribusi daerah dari sektor pariwisata praktis belum ada. Retribusi yang tercatat hanya berasal dari pengelolaan Gedung Olahraga (GOR), sementara destinasi wisata lainnya belum memberikan kontribusi pendapatan karena belum masuk dalam dasar hukum qanun yang berlaku saat itu.
Namun semuanya mulai berubah.
Pada Juni 2024, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang menerbitkan Qanun baru tentang retribusi daerah. Hasilnya langsung terasa: realisasi retribusi melonjak drastis dari 10 juta rupiah pada tahun sebelumnya menjadi 41,5 juta rupiah. Ini bukan sekadar kenaikan angka—ini adalah pertanda bahwa arah baru telah ditetapkan.
Langkah penting lainnya terjadi pada Mei 2025, ketika Pemerintahan Desa Selamat bersama Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) menyepakati retribusi wisata Gunung Pandan sebesar 400 ribu rupiah per bulan. Kesepakatan ini mendapat dukungan penuh dari Kepala Dinas Disparpora Aceh Tamiang dan menjadi tonggak awal bahwa sektor wisata kini mulai diperhitungkan dalam sistem retribusi resmi.
Dasar hukum untuk langkah ini diperkuat melalui Qanun Kabupaten Aceh Tamiang Nomor 2. Tahun 2024 Tentang pajak Kabupaten dan Restrubusi Kabupaten menjadi titik penting ketika retribusi sektor wisata mulai dijalankan secara utuh, setelah melalui proses sosialisasi yang masif ke desa-desa wisata. Masyarakat tidak hanya diberi pemahaman, tapi juga diajak menjadi bagian aktif dalam pembangunan sektor ini.
Kini, harapan masyarakat Aceh Tamiang pun mulai mengarah ke masa depan yang lebih cerah. Mereka menginginkan sebuah wilayah yang tidak hanya dikenal dari cerita, tetapi juga dari pengalaman langsung—melalui destinasi jogging track yang bersih, pusat kuliner lokal yang menggoda, dan layanan wisata yang terkelola dengan baik.
Namun pertanyaan penting muncul:
Apakah kita siap menjadikan pariwisata sebagai denyut baru pembangunan daerah?
Perjalanan ini baru dimulai. Tapi satu hal sudah jelas—Aceh Tamiang tidak lagi berjalan sendiri. Pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan mulai melangkah bersama. Juga harapan pemerintah daerah memperhatikan akses jalan menuju tempat wisata yang Masih banyak jalan yang belum teraspal, guna meningkatkan minat wisatawan datang ke destinasi wisata yang ada di Aceh tamiang dan kebijakan yang inklusif hingga kesadaran kolektif, semuanya bergerak menuju arah yang sama: menjadikan Aceh Tamiang sebagai destinasi wisata unggulan yang tumbuh dari akar lokal.
Mari kita jadikan tanah ini bukan hanya tujuan wisata, tapi juga kebanggaan bersama.







