google.com, pub-3988382010432274, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Perjuangan Tu Sop Mesti Dilanjutkan

Redaksi

September 17, 2024

Mediaindonesia24.com,Aceh Pidie——–,Bumi Aceh dan penduduk langit masih terus berduka dan menangis selama 70 hari dengan tersiarnya kabar meninggalnya seorang ulama karismatik Aceh Tgk H Muhammad Yusuf bin Abdul Wahab (Ayah Sop Jeunieb) pada Sabtu 7 September 2024.

Jasad Tgk H. Muhammad Yusuf bin Abdul Wahab (Tu Sop) telah terkubur tetapi cita cita besar dan perjuangan beliau untuk Aceh yang lebih baik tidak beliau boleh terkubur bersama jasadnya.

Perjuangan Tu Sop harus tetap hidup dan mesti kita lanjutkan sebagai bukti kesetiaan dan pengabdian terhadap apa yang telah diamanahkan olehnya.

Perjuangan untuk memperbaiki orang kuat dan menguatkan orang lemah tidak boleh padam ketika jasad beliau telah tiada. Tu Sop telah berjuang dengan penuh pengorbanan agar masyarakat Aceh bisa hidup sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat kelak.

Sebagian besar waktu hidupnya telah beliau korbankan untuk berpikir dan berjuang untuk Aceh. Penyakit lambung dan jantung yang diketahui belakangan ini bukan halangan baginya untuk terus berkontribusi untuk Aceh.

Karena jasa besar beliau untuk Aceh, kematiannya ditangisi dan membuat duka penduduk negeri Aceh. Jenazahnya dishalatkan seratusan ribu jamaah di empat tempat yang sangat mulia: Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Mesjid Dayah Almunawwarah Kuta Krueng, Mesjid Raya Dayah MUDI Samalanga dan Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunieb.

Setiap hari puluhan ribu jamaah ta’ziah seluruh penjuru Aceh melayat karena kerinduan terhadap sosok tokoh ulama yang telah memberikan cahaya ilmu dan pengabdian karena kecintaannya terhadap masyarakat Aceh.

Kematian Tu Sop tidak hanya dido’akan oleh ulama nasional tetapi juga ikut didoakan ulama internasional seperti tokoh dari Palestina dan Habib Umar Al Hafidh dari Yaman. Siapa sesungguhnya Tu Sop tersebut sehingga karamah (kemuliaannya) terus memancar setelah kematiaannya.

Ilmu dan semangat perjuangan darinya selalu hadir untuk kita semua. Kita sebagai salah seorang murid dari ratusan ribu muridnya tidak boleh terus larut dalam kesedihan yang bisa melemahkan semangat kita untuk melanjutkan perjuangannya.

Tu Sop Jeunieb dilahirkan pada 12 Desember 1964 dan dibesarkan dalam lingkungan dayah. Ayahnya Tgk Abdul Wahab bin Hasbullah seorang ulama pimpinan dayah dan tokoh yang terlibat politik praktis bersama partai Islam.

Paman dari pihak ibunya, Tgk H. Abdul Aziz bin Shaleh, Pimpinan Dayah MUDI Samalanga saat itu pernah diangkat sebagai Gubernur GAM pertama wilayah Batee Iliek oleh pimpinan GAM Tgk Hasan di Tiro pada tahun 1977.

Adik bungsu ummi Tu Sop, Tgk Abdullah bin Shaleh (Abon Dolah) juga seorang ulama pimpinan dayah Darul Atik Jeunieb dipercayakan sebagai Kadhi (Ketua Mahkamah Agung) dalam struktur pemerintahan GAM yang sangat dihormati dan disegani. Ia meninggal di hutan Jeunieb pada tahun 2003 saat konflik berkecamuk.

Ayah Sop seorang ulama yang berpemikiran moderat yang memiliki cita cita besar ingin Aceh ini makmur dan sejahtera dalam naungan Dinul Islam untuk kebahagian dunia dan akhirat.

Karena itulah beliau siap diusung untuk berjuang dalam pergerakan politik untuk maju sebagai Calon Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 27 November 2024.

Namun takdir berkata lain, akibat mengalami sakit lambung dan jantung, jasad beliau harus berpisah dengan ruhnya dan semua masyarakat Aceh untuk menuju alam kubur dan “menghadap” sang Penciptanya.

Kealiman, ketokohan dan gigihnya perjuangan beliau tidak akan tergantikan. Namun kita semua bisa dan harus melanjutkan perjuangan beliau.

Wafatnya Rasulullah tidak mengakibatkan padamnya perjuangan Islam. Para Sahabat dan Ummat Islam ketika itu justru semakin gigih dengan penuh pengorbanan mengagungkan dan menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru bumi meskipun jasad mereka harus terpisah dengan ruhnya karena menjemput kesyahidan untuk menuju ke Syurga-Nya, tempat kehidupan yang kekal abadi dengan kebahagian yang hakiki.

Lantas siapa tokoh yang siap mengambil peran untuk meneruskan perjuangan Tu Sop untuk maju sebagai Cawagub mendampingi Bustami Hamzah, yaitu Tgk H. M Fadhil Rahmi Lc, MA (Syeikh Fadhil).

Syeikh Fadhil sebenarnya sadar betul bahwa ia tidak punya kapasitas menggantikan almarhum Ayah Sop. Secara ukuran apapun ia jauh di bawah Ayah Sop, baik dari segi kapasitas, elektabilitasnya, kontribusi keummatan, pengalaman dan lain-lain.

Syeikh Fadhil menulis sebagaimana di kutip dari FBnya bahwa ia sudah lama berinteraksi dengan Tu Sop dan paham betul betapa sucinya cita-cita beliau untuk membimbing ummat ke jalan Islam, untuk mengantarkan Aceh kepada kejayaan, menjadikan Aceh sebagai mercusuar Islam di Asia Tenggara seperti yang sering beliau sampaikan dalam banyak ceramah beliau.

Bahkan Syeikh Fadhil yang juga kandidat Doktor Ilmu Syari’ah salah satu Universitas Islam terbaik tersebut bersumpah sebagaimana dikutip dari status FBnya.

“Bahwa demi Allah kami sangat terobsesi mewujudkan cita-cita Tu Sop. Karena cita-cita mulia beliau adalah cita-cita kita semua juga. Bahwa cita-cita Tu Sop adalah cita-cita Islam juga.

Bahwa apa yang diperjuangkan oleh Tu Sop dan cita-cita beliau untuk masa depan Aceh adalah sebagaimana Rasulullah SAW yang telah mengajarkan kita ummatnya untuk menjadikan kesuksesan di dunia sebagai bekal kesuksesan akhirat, bahwa dunia ladang investasi kita untuk akhirat”. Tulis Syech Fadhil yang juga alumni salah satu dayah terbaik cabang Dayah MUDI Samalanga ini.

Perjuangan Tu Sop dan cita cita Syeikh Fadhil juga sejalan dengan keinginan Wali Neugara Dr. Tgk Hasan di Tiro yang menulis dengan jelas dalam bukunya: “Segala sesuatu di Aceh dinilai berdasarkan standar Islami. Islam merupakan bagian tak terpisahkan dari Aceh. Jika Aceh dalam sekeping koin, Islam adalah sisi lain dari koin itu. Aceh adalah negara yang didirikan atas dasar Islam dan hidup dengan hukum Islam. Sudah seperti ini sebagian besar dari dari catatan sejarah kita.” (The Price of Freedom: The Unfinished Diary; 124). Cita cita Wali Tgk Hasan di Tiro harus dilanjutkan oleh tokoh yang tepat dan punya kapasitas keilmuan yang mumpuni untuk melanjutkannya.

Seperti air yang tenang menghanyutkan, biarpun tak bersuara, tetapi dengan usaha, air itu mampu melubangi batu, begitulah orang beriman, perjuangan yang tekun dan sabar pasti akan membuahkan hasil di sisi Allah.

Hikmah yang bisa kita petik dari meninggalnya Ayah Sop bahwa Bustami Hamzah sebagai Calon Gubernur dan parpol pengusung sangat menyadari bahwa pasangan Bustami Hamzah – Tgk H. M. Fadhil Lc, M.Ag sangat sulit bisa menang jika tidak ada dukungan dari Ulama.

Dengan kejadian ini, Om Bus sangat berharap dukungan besar dari Ulama. Jika terpilih nantinya maka Om Bus akan sangat menyadari dan mengingat seberapa besar perjuangan Ulama dan kontribusi masyarakat Aceh dalam memenangkan dirinya sebagai pemimpin Aceh.

Hal ini akan mengakibatkan Om Bus dan pasangannya Syeikh Fadhil yang juga didukung Ulama Nasional Ustad Abdus Samad (UAS) lebih komit menjalankan amanah para Ulama dan amanah Ayah Sop untuk menuju kebangkitan Aceh ke depan agar bahagia di dunia dan selamat di akhirat sebagaimana cita cita terbesar Tu Sop.

Ayah sebagai seorang martir (syuhada) yang siap tumbang lebih dulu demi membuka jalan dan kemudahan bagi penerus perjuangannya menuju kebangkitan dan kesuksesan.

Di akhir tulisan ini penulis mengutip salah satu hadist Rasulullah: Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya maka tunggulah terjadi kehancuran.

Semoga masyarakat Aceh tidak lagi salah dalam memilih pemimpin.

Allahumma Shalli ‘ala sayyidina Muhammad

Pidie, 12 Rabiul Awwal 1446 H

Tgk Mukhtar Syafari, S.Sos, MA
Koordinator Relawan Ulama – Umara (UMUM). Pengkaji pemikiran politik Islam Tgk Hasan di Tiro.(T,J IQBAL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Konten dilindungi!!